Perang tahap ke II setelah bom atom yang meluluhlantakan hirosima dan nagasaki memunculkan strategi perang nuklir, yaitu senjata satu jenis yang di gunakan sekali untuk penghancuran masal. kini kita memasuki perang tahap ke III dimana senjata utamanya adalah mengandalkan teknologi informasi yang di pandang tidak hanya melumpuhkan infrastruktur meliter, namun juga mampu melumpuhkan infrastruktur nasional, bahkan integrasi sosial suatu bangsa , tujuan utama dari perang teknologi informasi ini adalah mengalahkan lawan tanpa pertempuran meliter, kunci keberhasilan taktik perang media informasi ini terletak di penguasaan teknologi informasi.
Hal ini jugalah yang menimpa di negeri ini, dengan menguasai teknologi informasi rakyat bisa tidak percaya kepada pemerintah, LSM, Organisasi, Instansi-instansi, Partai dll, Media menjadi bagian yang teramat penting dalam kehidupan manusia saat ini, tuntutan mendapatkan informasi cepat, terlebih lagi di era segala sesuatu serba online seperti saat ini, informasi semangkin deras, tidak hanya di manfaatkan sebagai sarana komunikasi saja, tapi informasi-informasi dari wartawan ke khlayak umum, tiap ada peristiwa yang baru terjadi informasinya langsung di terbitkan oleh media online, sedangkan media cetak seperti koran, majalh isi berita baru bisa di ketahui esok hari.
Melihat perkembangan ini, media massa amat riskan utk di tunggangi oleh kepentingan individu,kelompok, atau golongan tertentu untuk mempengaruhi opini masyarakat, ada berita muatan-muatan tertentu yang di sisipkan apakah itu sifatnya pencitraan atau pembunuhan karakter sehingga si A, atau kelompok tertentu yang buruk kelihatan baik, yang baik kelihatan buruk sehingga menjadi hancur.
Di negara kita setelah terjadinya reformasi, beberapa media di kuasaai oleh pihak tertentu yang memilik kedekatan dengan pemerintah atau politik oposisi. sebuah revolusi besar di mana informasi sangat mudah di akses oleh masyarakat dan sangat cepat menyebar, bahkan bukan hanya cepat menyebar dan mudah di akses tapi seolah-olah menghampiri masyarakat dan memaksa untuk dikonsumsi.
media dapat mempengaruhi pada kondisi ekonomi, politik ataupun sosial budaya. khususnya di indonesia stelah 1998 pasca reformasi, membuka pintu liberalisasi pers seluas-luasnya, berita-berita dari pers ini sangat mempengaruhi, bagaimana bias berita yang buat oleh watawan dapat berpengaruh besar bagi pembentukan opini masyarakat, efek negatif ini bisa terjadi pada suatu partai yang di jelekkan oleh pemilik media, yang mana pemilik media adalah orang yang tidak senang dengan partai tersebut. oleh karena itu selama media masih di kuasai pihak tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu, apakah telivisi, media online dan media cetak, berita akan menjadi alat politik pemiliknya untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar