Jumat, 02 September 2016

kita memohon kepada Allah untuk membimbing kita

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa  menit kemudian ia menyapa saya.

_“Dik hendak ke Jogja juga?”_

_“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”_

_“Iya.”_

_“Bapak sendiri?”_

_“Iya.”_ Senyumnya datar. Menghela napas panjang._“Dik kerja dimana?”_

_“Saya serabutan, Pak,”_ sahut saya sekenanya.

_“Serabutan tapi mapan, ya?”_ Ia tersenyum. _“Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”_

Saya tertegun. _“Kok begitu, Pak?”_

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia.  Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.

Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

_“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua._

_Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”_

_“Bapak, Bapak yang sabar ya….”_
Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.

Ia tersenyum kecut.
_“Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik..._
_Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki..._ 

_Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”_

Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat ayah saya.
Spontan saya memeluk Bapak tsb..
Tak sadar menetes airmata..
Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata..

Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagai permadani putih.

Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut. Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat...

_ Mari kita memohon kepada Allah untuk membimbing kita agar tidak tersesat dlm menjalani hidup dan kehidupan ini. Di luar itu, semua semu. Tidak ada yg kekal.. yg kita miliki hanyalah "Waktu..._



Posted Hardians

Senin, 01 Agustus 2016

Langit yang Enggan Menurunkan HujanNya

Bani Israil tertimpa kekeringan di masa Musa a.s. orang banyak berkumpul lalu berkata, " wahai Musa, berdoalah pada tuhanmu agar menurunkan hujan untuk kami " Beliau lalu berdiri bersama mereka dan berjalan menuju paang pasir, seluruhnya sekitar tujuh puluh ribu orang atau bahkan lebih. Mereka berkumpul bersama Nabi Musa, berdiri sambil berdoa. Mereka tampak kumal berdebu, haus dan lapar
    Nabi musa berdiri dan berdoa, " ya tuhanku, turunkanlah hujan-MU pada kami,  rahmt-Mu atas kami, karunialah kami dengan bayi-bayi yang menyusu, binatang ternak yang merumput, dan orang-orang tua yang ruku'. " Langit malah semangkin terang dan matahari semangkin meyengat.
    Musa berkata lagi, " Tuhanku beri kami air !"
    Allah  berfirman , " bagaimana mungkin Aku memberi kalian air jika di antara kalian ada seorang hamba yang bergelimang maksiat sejak empat puluh tahun lalu. panggillah ia dan perintahkan agar ia keluar dari kerumunan ini ! karena dialah Aku tahan turunnya hujan untuk kalian semua."
    Musa a.s berseru pada kaumnya. " hai kamu, hamba yng bermaksiat sejak empat puluh tahun lalu, keluarlah dari kerumunan ini! sebab, kamulah penyebab hujan tidak jadi turun."
    Hamba yang durhaka itu melihat k kiri dan ke kanan. dia tidak melihat seorangpun yang keluar. Tahulah ia bahwa dirinyalah yang di maksud. Dia berkata dalam hati, " jika aku keluar dari kerumunan ini, berarti aku membuka aibku sendiri di hadapan pemuka bani israil. Namun , jika aku tetap bersama mereka, hujan tidak akan turun. " Jiwanya pun tergoncang. Air mata menggenangi kedua matanya. Ia tertunduk, menyesali semua yang pernah ia lakukan. Ia berkata, " Tuhanku, sudah empat puluh tahun hamba mendurhakai-MU. Engkau telah tutupi segala perbuatan dosa itu di hadapan banyak orang dan kini menegur hamba secara halus. Hamba datang pada-Mu dengan penuh keiklasan, maka terimalah tobat hamba." ia rendahkan dirinya di hadapan sang pencipta.
    Belumlah tuntas ucapannya itu, awan bergerak perlahan membentuk gumpalan-gumpalan hitam di langit, turunlah hujan. Musa terkejut lalu berkata, " Tuhanku! Engkau telah menurunkan hujan untuk kami, padahal tidak seorang pun dari kami yang keluar ?" Allah berkata, " Musa ! Aku turun kan hujan karena yang menyebabkannya tertahan telah hilang, "
   " Tuhanku..! Tunjukkan padaku hamba yang sudah taat itu " pinta musa.
   " Allah berkata, "Musa, Aku tidak akan membuka aibnya meski ia dulu mendurhakai Ku. Pantaskah Aku membuka aibnya ketika ia telah mentaati Ku,
Subhanallah dari kisah ini bisa kita ambil hikmah bahwasanya dosa-dosa itu lah yg menghalangi rezeki itu datang kepada seseorang, dosa itu seperti sampah yg menumpat selokan air, sehingga air tidak mengalir, semoga kita selalu di lindungi oleh Allah dari godaan saitan yg terus membisikkan kita agar terjerumus dalam kubangan dosa, semoga kita selalu menjadi orang yang terus melakukan intropeksi & bertobat dari dari dosa-dosa kecil kita sampai dosa-dosa besar kita, InshaAllah



Posted Hardiansyah

Jumat, 29 Juli 2016

Percaya, Diam, dan Lihatlah

Seorang anak kecil sedang bermain sendirian dengan mainannya. Ketika sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba mainannya itu rusak. Dia mencoba untuk membetulkannya sendiri, tapi rupanya usahanya itu dari tadi sia sia saja. Akhirnya dia pun menyerah, dan mendatangi ayahnya agar memperbaiki mainannya tersebut.

Sambil memperhatikan ayahnya memperbaiki mainannya, dia selalu saja memberikan komentar kepada ayahnya, "Ayah, coba lihat bagian sebelah kiri, mungkin di situ kerusakannya." Ayahnya menurutinya, tapi ternyata belum betul juga mainannya.

Maka dia memberi komentar lagi, "Oh, bukan di situ yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi deh yah." Kali ini ayahnya juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.

"Kalau begitu coba yang di bagian depan yah, kali aja masalahnya ada di situ." Kali ini ayahnya marah, "Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kamu kerjakan sendiri saja ? Jangan ganggu Ayah lagi ! Ayah masih banyak kerjaan lain." kata sang Ayah sambil berlalu pergi meninggalkan anaknya.

Tapi setelah dia mencoba beberapa saat untuk memperbaikinya lagi, ternyata dia masih belum juga berhasil. Akhirnya dia kembali lagi kepada ayahnya sambil merengek, "Tolonglah yah, aku suka sekali mainan ini, kalau rusak begini bagaimana ? Tolong Ayah betulkan supaya bisa jalan lagi ya ?"

Karena tidak tega mendengar rengekan anaknya, si ayah akhirnya menyerah, "Baiklah Nak. Ayah akan memperbaiki mainanmu, asal kamu berjanji tidak boleh memberitahu Ayah apa yang harus Ayah lakukan. Kamu duduk saja dan perhatikan Ayah bekerja. Tidak boleh berkomentar."

Ketika ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si anak mulai berkomentar lagi, "Jangan yang itu yah, kayaknya bagian lain yang rusak."

Mendengar hal itu, kali ini ayahnya berkata, "Kalau kamu berkomentar lagi, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri." Karena takut ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu pun diam dan duduk manis sambil melihat ayahnya memperbaiki mainannya sampai bisa berjalan lagi tanpa mengeluarkan komentar apa pun.

Seperti anak kecil itu, kita pun sering kali berserah kepada Allah SWT tapi masih ingin mengatur Allah SWT bagaimana sebaiknya jalan hidup kita.

Jika saja kita bisa sepenuhnya pasrah kepada kehendak Allah SWT, maka niscaya sungguh Allah SWT yang Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan memberikan apa-apa yang terbaik, lebih dari apa yang kita pikirkan dan do'akan.

Percaya sepenuhnya tanpa ada keraguan dalam menyerahkan urusan kita kepada Allah SWT. Itulah kuncinya.

---------- www.alkisaah.blogspot.com ---------



Posted Hardiansyah