Kamis, 28 November 2013

Ketika Allah Menguji Kita dengan Sedih

Kamis, 28 November 2013 11:44:49 AM



Zulfi Akmal
Al-Azhar, Cairo

Kadang-kadang kita merasa sedih, tapi tidak tahu apa yang disedihkan dan tidak jalas apa penyebab sedih?

Kadang kita gundah gulana, tapi tidak tahu sebab kenapa kita gundah?

Kadang kita merasa kesal dan marah, tapi tidak tahu mau marah kepada siapa dan apa penyebab marah?

Kadang kita merasa kesepian, padahal banyak teman yang mengelilingi kita.

Untuk itu semua....

Boleh jadi penyebabnya hal berikut ini...

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Apabila telah banyak dosa seorang hamba, sementara tidak ada baginya amalan yang akan menjadi penebusnya, Allah akan mengujinya dengan rasa sedih". (HR. Imam Ahmad)

Bagi sebagian orang, sering salah menanggapi kondisi seperti ini. Untuk menghilangkan sedih, gundah, murung, kesal dan marah, ia malah mencari hiburan. Seperti pergi ke bioskop, diskotik, rekreasi dan naudzubillah, malah melakukan maksiat seperti mabuk dan semacamnya.

Padahal perasaan semacam itu munculnya justru disebabkan ujian dari Allah karena dosa yang sudah menumpuk. Untuk menghadapi hal demikian seharusnya yang kita lakukan adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar. Supaya dosanya cepat luntur dan bersih, dan Allah segera mengangkat ujiannya.

Bila yang kita lakukan malah semakin menjauh dari Allah dengan melakukan maksiat, tentu saja kegelisahan yang dialami akan semakin hebat. Kita pun semakin menjadi orang yang gagal di hadapan ujian Allah.

Ya Allah, tariklah kami untuk selalu mau menyadari kesalahan dan beri kami hidayah untuk langsung bertaubat.



sumber : PKS PIYUNGAN

Senin, 25 November 2013

Hidup Anda Selalu Kekurangan? Ini Dia Tips Mendadak Berkecukupan Ala Imam Syafi’i

arab car Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.
Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.
Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.
Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.
Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan (profesional), hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.

Sumber: Group Persaudaraan Muslim

Kamis, 21 November 2013

Bagaimana Iman Meningkatkan Derajat Manusia?

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/11/iman.jpgdakwatuna.com  – Dengan keimanan, derajat manusia dapat naik hingga derajat yang tertinggi. Maka dengan derajat yang tinggi itu, manusia menjadi mempunyai sebuah nilai yang dapat memasukkannya ke dalam surga.
Sebaliknya, dengan kekafiran, derajat manusia dapat turun hingga derajat yang serendah-rendahnya. Maka dengan derajat yang rendah itu, manusia tidak mempunyai nilai yang tidak berharga, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka.
Semua itu bisa terjadi karena iman telah menghubungkan antara manusia dan Penciptanya dengan hubungan dan ikatan yang sangat kuat, seperti kuatnya ikatan nasab, keturunan. Sesungguhnya keimanan adalah ikatan nasab, maka dengan keimanan seorang manusia mendapatkan nilai dan kedudukan yang sangat mulia. Kehendak dan ciptaan Allah SWT akan sangat jelas terlihat pada dirinya. Pada dirinya tanda-tanda indah yang berasal dari indahnya asma’-asma’ Allah SWT juga akan sangat terlihat.
Sedangkan kekafiran adalah sebaliknya. Kekafiran manusia telah memutuskan hubungan nasab manusia dengan Penciptanya. Kegelapan akibat kekafiran telah menutupi cahaya keindahan Allah SWT pada ciptaanNya, bahkan kadang dapat menghilangkannya sama sekali. Dalam keadaan kafir, nilai seorang manusia akan terbatas pada nilai bahan asal penciptaannya sana, yaitu tanah. Sedangkan sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah bahan asal itu tidak mempunyai nilai apa-apa. Karena bahan itu bersifat fana dan pasti akan rusak. Maka seorang kafir hidupnya tak berbeda dengan kehidupan hewan yang akan berlangsung sementara saja.
Marilah sama-sama kita renungkan hal itu dengan sebuah permisalan. Nilai sebuah bahan asal itu tidak mesti sama dengan nilai barang jadi. Ketidaksamaan itu akan terus bertambah sesuai dengan kualitas dan cara pembuatannya. Oleh karena itu, kejadiannya pun bisa bermacam-macam. Kadang kita jumpai sebuah barang buatan  sama nilainya dengan bahan asalnya. Kadang juga kita temui bahan asal jauh lebih mahal nilainya dari pada barang buatannya.
Karena, boleh saja terjadi sebuah cindera mata yang sangat mahal itu terbuat dari bahan besi. Cindera mata itu boleh jadi sebuah hasil seni kuno yang dapat bernilai jutaan Lira, walaupun barang itu hanya terbuat dari sebuah besi. Jika barang itu ditawarkan di sebuah pasar pengrajin yang mahir dan berkemampuan seni tinggi, cindera mata itu dapat bernilai jutaan Lira. Tapi apabila ditawarkan di pasar besi, maka barang itu tidak bernilai tinggi. Bahkan mungkin tidak akan ada yang mau membelinya, walaupun dijual dengan harga yang sangat murah.
Demikian juga manusia, dia adalah ciptaan yang sangat sempurna dari Zat Pencipta Yang Maha Esa. Manusia adalah termasuk penampakan kekuasaan Allah SWT yang tertinggi. Padanya, Allah SWT meletakkan banyak sekali penampakan sifat-sifat dan asma’-asma’Nya. Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi makhluk tempat berkumpulnya karakteristik semua makhlukNya.
Bila telah terdapat cahaya keimanan pada diri seorang manusia, maka cahaya itu akan menampakkan dan mengeluarkan semua potensi positif manusia. Bahkan orang lain akan dapat pula merasakannya. Seorang yang beriman akan dapat menangkap dan merasakan hal itu dengan cara bertafakkur. Hingga keimanan itu pun akan bersemayam dalam dirinya. Seakan seorang yang mempunyai cahaya itu berkata kepada orang lain, “Wahai manusia, inilah aku, ciptaan Sang Pencipta Yang Maha Agung. Lihatlah, betapa kasih sayangNya dilimpahkan kepadaku.”
Oleh karena itu, keimanan –yang juga mempunyai makna bernasab kepada Allah SWT – akan dapat menampakkan seluruh kebaikan dan keistimewaan manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai seorang manusia akan sangat ditentukan oleh seberapa tampaknya kebaikan dan keistimewaan ini pada dirinya. Maka dengan itu, seorang manusia yang nilai bahan asalnya tak seberapa akan berubah menjadi makhluk yang bernilai sangat tinggi, di atas seluruh makhlukNya yang lain. Saat itu, manusia akan dapat berkuasa untuk menerima firman Allah SWT, dan mendapatkan kemuliaan yang menjadikan dirinya sebagai tamuNya di surga.
Sebaliknya, jika manusia dimasuki oleh kekafiran –yang juga mempunyai makna terputusnya nasab dengan Allah SWT- maka akan hilang juga semua keistimewaan manusia yang berasal dari sifat-sifat dan asma’-asma’ Allah SWT. Semua itu akan hilang dalam kegelapan. Ketika hilang, artinya hal itu tidak akan dapat dilihat dan dibaca. Karena manusia itu sudah melupakan Penciptanya. Dan ketika lupa, arah-arah maknawi yang dapat menunjukkan kepada Sang Pencipta juga tidak dapat diketahui.
Bahkan keistimewaan dan kebaikan manusia itu akan berbalik keadaannya. Semua tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang diletakkan pada diri manusia akan benar-benar hilang. Yang tersisa dan terlihat oleh mata hanyalah hal-hal yang sepele, yang sama-sama dimiliki oleh benda dunia yang lain, dan kadang terjadi secara kebetulan. Itupun kadang akan hilang sama sekali, sehingga benar-benar hilang keistimewaannya. Benda yang sebelumnya bernilai sangat mahal itu kini tak bedanya dengan sebuah botol kaca berwarna hitam kelam, yang hanya digunakan untuk keperluan-keperluan yang sederhana dan biasa saja.
Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa tujuan hidup sebuah materi hanyalah bagaimana dia dapat hidup walaupun sebentar saja, dengan kehidupan yang sempit dan tidak bernilai tinggi. Materi adalah makhluk yang paling rendah, lemah dan hina, dan pada akhirnya akan hilang dan dimusnahkan. Dan demikianlah, bagaimana kekafiran dapat merubah kualitas hidup manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang sangat tinggi derajatnya, menjadi benda yang tidak ada bedanya dari benda dunia yang lain. Layaknya perubahan dari permata yang mahal, menjadi batu arang hitam yang hina. (msa/dakwatuna)



Rabu, 26 Juni 2013

Mulia Dalam Kejujuran


Kejujuran (ilustrasi).
Kejujuran (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Haedar Nashir

“Aku bukan Malaikat,” kata si Fulan penuh nada yakin. Memang, siapa bilang engkau mahkluk Allah yang sangat patuh dan bersih dari dosa? Kita manusia biasa. Sejauh tak ada percikan niat ingin menjadi pendosa dan bersahabat dengan syaitan, mengapa mesti galau?

Manusia, siapa pun dia bisa salah dan khilaf. Manusia menjadi manusiawi karena dalam dirinya ada ruang untuk keliru.

Adam sang khalifah fil-ardh dan istrinya Hawa mengalami tahbith, dikeluarkan dari surga karena memakan buah khuldi. Keduanya menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa. Adam alaihissalam (AS) kemudian diberi tugas mulia sebagai nabi penyebar risalah pertama di muka bumi.

Masalahnya, tidak sedikit manusia berpakaian angkuh ketika salah. Alih-alih jujur akan kekhilafan, lalu memperbaiki diri ke jalan benar dan berlari kencang menuju ampunan Tuhan malah sibuk mencari kambing hitam. Diri seolah tetap bersih dan tak merasa berada di persimpangan jalan buntu.

Isyarat tubuh pun masih tampak pongah dalam keperkasaan semu. Jauh dari sikap tawadhu' (rendah hati). Ketika salah dan berbelok arah dari idealisme awal, masih pula merasa lurus.

Tak ada rona sesal untuk bermuhasabah diri. Keangkuhan itulah yang menjadikan anak cucu Adam tersandera dalam sangkar besi kesalahan, lalu menjadi cibiran nyinyir khalayak publik.

Menjauhi kicuh
Muslim yang autentik berani jujur meski ketika salah. Ibda bi-nafsika, orang jujur akan selalu berkonsultasi kepada hatinya. Pihak lain akan mudah dikelabui dengan 1.001 cara. Tetapi manakala diri salah maka nurani tak pernah dusta.

Kejujuran itu mahal. Kejujuran merupakan mutiara paling berharga yang membuat siapa pun dihargai dan dipercaya. Tuhan mencintai orang-orang yang berhati jujur, berkata dan berbuat jujur.

Muhammad di usia muda sebelum diangkat menjadi Nabi memperoleh tempat mulia di hati bangsa Arab karena kejujurannya. Dia bahkan digelari al-Amin, sang terpercaya. Bangsa kafir dan jahiliyah sekalipun masih menjujung tinggi nilai kejujuran.

Kejujuran itu universal. Di belahan dunia manapun sejauh hati masih bicara, pasti mencintai kejujuran. Pesepak bola ternama dari negeri Samba, Neymar, juga mencintai kejujuran.

“Saya orang Brasil dan saya mencintai negara saya. Saya ingin Brasil yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih jujur,” tulis Neymar di akun Facebook-nya ketika mereaksi maraknya demonstrasi di negerinya beberapa saat sebelum kick off pertandingan Piala Konfederasi 2013 melawan Meksiko.

Bagi orang Islam kejujuran harus menjadi bagian utuh dari kemusliman. Kisah Imam Al-Bukhari tatkala melacak kebenaran sebuah hadis sungguh penting dijadikan mutiara kehidupan.

Suatu kali periwayat hadis ternama itu pergi menelusuri kebenaran sebuah hadis dari seseorang. Ia melihat orang yang dicari itu sedang mengejar kudanya yang terlepas. Untuk menangkap kudanya, orang itu menunjukkan bungkusan seolah di dalamnya ada gandum. Kuda terkecoh dan akhirnya ditangkap kembali.

Al-Bukhari mendekat dan bertanya kepada si pemilik kuda. “Apakah engkau sertakan gandum dalam bungkusan itu?” Orang itu menjawab, “Tidak, aku hanya mengelabui kudaku agar mudah kutangkap.”

Imam Bukhari dengan tegas berkata, “Kalau begitu, aku tidak akan mencari hadis dari orang yang bohong terhadap hewan.” Dusta dan bersiasat kepada hewan saja tercela, apalagi terhadap sesama manusia.

Kisah Al-Bukhari menurut Jabir al-Jazairi merupakan contoh agung tentang hakikat kejujuran atau kebenaran. Kejujuran merupakan nilai, sikap, dan tindakan paling utama, lebih dari segalanya. Hidup jujur itu mulia, sedangkan dusta itu hina.

Lawan jujur ialah kicuh, yakni dusta dan suka mengelabui. Dalam hadis disebut nifaq. Yakni, jika bicara atau memberi pernyataan berbohong, manakala berjanji tidak ditepati, dan bila diberi amanat berhianat.

Barang halal dan baik dicampuradukkan dengan yang haram dan subhat. Lain di kata, lain pula tindakan. Jargon dan tindakan lahir tampak indah demi rakyat, tetapi motif dan tujuan penuh siasat bulus. Kicuh perilaku yang antagonis seperti itulah musuh kejujuran dan kebenaran sekaligus perangai yang paling dibenci Tuhan. (QS ash-Shaff [61]: 4).

Kehormatan diri
Perilaku kicuh sering membuat pelaku bebal diri. Bertipu muslihat dianggap lumrah dan bukan dosa. Boleh jadi perbuatan muslihat bagi sementara orang dipandang sebagai cara hidup demi meraih tujuan.

Dusta menjadi perilaku berjamaah yang didukung para pengikut setia. Ukuran moral dinisbikan demi siasat, yang penting nilai guna dan kemenangan. Hati nan jernih (qalbu salim) akhirnya menjadi mati rasa. Agama pun tak sungkan dijadikan alat mengicuh dalam aroma sakral.

Insan beriman pun bisa roboh ketangguhan akidahnya. Keimanan hanya gemerlap dari luar, tetapi kering di dalam karena tingginya hasrat menguasai dunia melampaui takaran.

Tatkala perjuangan hidup masih merayap senyap, kejujuran dan nilai-nilai luhur masih dapat dirawat dengan baik. Setelah roda kehidupan berputar ke atas, api kejujuran dan sikap hidup utama pun luruh dan terkikis habis karena tertipu dengan pesona dunia. (QS Ali Imran [3]: 14).

Kejujuran digadaikan. Idealisme ditukar murah dengan kursi, materi, dan kesenangan indera yang diraih dengan jalan pintas. Perangai berubah drastis dari sosok-sosok yang tulus hati dan tawadhu' yang menjadi para pencari pamrih dalam pakaian diri serba angkuh, pemarah, ambisius, dan terjangkiti virus apologia.

Begitulah ketika pesona dan kejayaan duniawi mengerangkeng hidup bani Adam. Dalam sangkar besi kehidupan dunia yang sarat gemerlap tidak sedikit manusia beriman akhirnya jatuh dalam kubangan kesalahan diri dan kolektif. Maksud meraih sukses dunia melampaui pihak lain, segala cara syubhat dan haram pun dilakukan.

Nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepatutan diterabas tanpa rasa sungkan. Martabat atau kehormatan diri pun dibanting harga hingga ke titik terendah, yang penting menang dalam meraih tujuan.

Kaum beriman pun kehilangan kehormatan diri demi kejayaan hidup berlebih. Mata batinnya lumpuh dan tidak lagi sensitif akan nilai-nilai kebajikan yang utama. Nasihat sekaligus kritik orang tak lagi mempan, bahkan bebal ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu.

Kian larut dalam permainan duniawi, semakin jauh dirinya dari segala sesuatu yang bernilai hakiki, yang ada hasrat dan keasyikan mengejar kedigdayaan. Akhirnya, berlakulah titah Tuhan, tsuma radadnahu asfala safilin, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS at-Tin [95]: 5).

Iman dan ilmu tinggi tidak lagi menjadi energi pencerahan hidup. Keberimanan pun berhenti sekadar menjadi aksesori keagamaan yang kelihatan bening dari luar, tetapi jorok di dalam. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dia-lah yang paling mengetahui tentang perangai orang bertaqwa.”(QS an-Najm [53]: 32).

Alquran Bagi Calon Legislatif


Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teuku Zulkhairi*
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan, “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lama, kedua perkara tersebut adalah Kitabullah (Alquran) dan sunahku.” (HR Hakim dan Daruquthni).

Sebagai umat Islam, bagi kita Alquran adalah kitab suci yang harus kita jadikan sebagai pegangan hidup. Alquran adalah masdarul hayah. Alquran memberi petunjuk atas apa pun persoalan yang dihadapi umat Islam selama hidupnya.

Tentu saja, termasuk dalam ranah negara di era demokrasi dengan trias politica-nya, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam Islam, kenestapaan yang mendera bangsa kita saat ini terjadi karena Alquran sudah demikian jauh ditinggalkan oleh pelaksana ketiga lembaga negara itu.

Alquran menjelaskan, beragam petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Tak hanya umat Islam tapi seluruh manusia. Misalnya, Alquran sebagai yang menerangkan dan menjelaskan (QS [16]:89), Alquran sebagai kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS [2]: 91), Alquran sebagai Furqan (pembeda antara hak dan yang batil, baik dan buruk), Alquran sebagai obat penyakit (jiwa) (QS [10]: 57), pemberi kabar gembira, sebagai hidayah atau petunjuk (QS [2]: 2), sebagai peringatan, sebagai cahaya petunjuk (QS [42]: 52), sebagai pedoman hidup (QS [45]: 20), dan sebagai pelajaran.

Fungsi legislatif
Maka, bagi seorang calon anggota legislatif (caleg) yang jika kelak terpilih sebagai anggota legislatif, khususnya para legislator Muslim, ada kewajiban besar untuk menjadikan Alquran sebagai sumber pijakan dalam menjalankan amanah rakyat, sekaligus petunjuk jalan kehidupan.

Patut diingat, tugas mengimplementasikan kandungan Alquran bukan hanya diemban oleh anggota legislatif yang berasal dari partai politik berbasis massa Islam, tapi juga bagi setiap kader parpol yang beragama Islam. Sebagai Muslim, sudah sewajarnya menjalankan ajaran Alquran dan sunah Rasulullah dalam segala aspek kehidupan.

Terkait fungsi legislatif, masyarakat manapun bisa mengkaji apa fungsi sebuah lembaga legislatif karena memang untuk memahaminya tidak terlalu sulit. Sebagaimana dijelaskan Ali Moertopo (1974), ada tiga tugas pokok sebuah lembaga legislatif.

Pertama, fungsi di bidang legislasi, bersama-sama dengan pemerintah menentukan pokok-pokok kebijakan pemerintahan melalui perundang-undangan. Kedua, fungsi bidang anggaran (budgetting), menentukan anggaran belanja dan penerimaan negara bersama dengan pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan yang disetujui bersama. Ketiga, fungsi bidang pengawasan, melalui komisi-komisi pengawasan terhadap pemerintah dengan mempunyai hak bertanya, angket, dan lain-lain.

Fungsi Alquran bagi Legislatif
Fungsi Alquran bagi anggota legislatif sebenarnya sama juga dengan fungsi Alquran bagi kategori umat Islam lainnya. Alquran adalah petunjuk hidup, solusi atas berbagai persoalan umat manusia.

Jika dikaitkan dengan fungsi dan wewenang lembaga legislatif yang terangkum dalam tiga fungsi utama seperti disebutkan di atas, maka seharusnya Alquran menjadi petunjuk dalam setiap kebijakan legislasi, prosesi penentuan anggaran dan petunjuk utama dalam melakukan pengawasan penggunaan anggaran dan kinerja pemerintah dengan segenap kabinetnya.

Dengan menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam proses legislasi, budgeting dan pengawasan, maka kita yakin negeri ini akan semakin berkah dan diridhai Allah. Setiap produk Undang-undang pasti di sana akan dipenuhi pesan-pesan langit yang menyeru kepada rahmatan lil alamin, bukan hanya menjadi berkah bagi jaringan dan kelompok tertentu.

Setiap proses penentuan budgeting, kita yakin anggaran akan sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat serta sepenuhnya benar dalam perspektif Islam, benar secara syari'i dan secara politik serta tidak ada KKN lagi di sana.

Begitu juga, pengawasan yang dilakukan oleh lembaga legislatif akan memiliki patron yang jelas yang akan menyelamatkan kita semua di dunia dan di akhirat. Dan yang lebih penting, Alquran menjelaskan, apa pun pekerjaan manusia akan selalu berada dalam pengawasan sang pencipta, Allah SWT.

Melihat realitas kehancuran hari ini dan harapan kita di hari esok, kita berharap negeri ini mampu memelopori terobosan-terobosan baru dalam seleksi kepemimpinan. Pemilu ke depan, kita berharap para bacaleg Muslim mampu membaca Alquran, memahami, menerjemahkan, dan mengimplementasikan isinya dalam kehidupan pribadi dan juga dalam bentuk produk legislasi.

Kita berharap, suatu hari nanti lembaga legislatif kita diisi oleh para penghafal Alquran yang selalu ber-mulazamah dengan Alquran. Selain itu, hatinya juga selalu terpaut dengan masjid sehingga dengan itu akan memudahkan tugasnya sebagai seorang anggota legislatif.

Dengan model legislatif seperti ini, tentu kita yakin dengan cita-cita. Kita yakin, 10 atau 20 tahun mendatang, lembaga legislatif kita pasti akan berpihak sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan yang lebih penting, posisi Alquran bisa dikembali pada posisi idealnya.

Sebelum hal itu terwujud, kita berharap legislator Muslim saat ini dan yang akan terpilih di Pileg 2014 agar terus mengkaji pesan-pesan Alquran dan hadis untuk menjalankan semua tugasnya di lembaga legislatif. Saya yakin tidak sulit jika ada kesungguhan.