dakwatuna.com – Dengan keimanan, derajat manusia
dapat naik hingga derajat yang tertinggi. Maka dengan derajat yang
tinggi itu, manusia menjadi mempunyai sebuah nilai yang dapat
memasukkannya ke dalam surga.
Sebaliknya, dengan kekafiran, derajat manusia dapat turun hingga
derajat yang serendah-rendahnya. Maka dengan derajat yang rendah itu,
manusia tidak mempunyai nilai yang tidak berharga, sehingga dia
dimasukkan ke dalam neraka.
Semua itu bisa terjadi karena iman telah menghubungkan antara manusia
dan Penciptanya dengan hubungan dan ikatan yang sangat kuat, seperti
kuatnya ikatan nasab, keturunan. Sesungguhnya keimanan adalah ikatan
nasab, maka dengan keimanan seorang manusia mendapatkan nilai dan
kedudukan yang sangat mulia. Kehendak dan ciptaan Allah SWT akan sangat
jelas terlihat pada dirinya. Pada dirinya tanda-tanda indah yang berasal
dari indahnya asma’-asma’ Allah SWT juga akan sangat terlihat.
Sedangkan kekafiran adalah sebaliknya. Kekafiran manusia telah
memutuskan hubungan nasab manusia dengan Penciptanya. Kegelapan akibat
kekafiran telah menutupi cahaya keindahan Allah SWT pada ciptaanNya,
bahkan kadang dapat menghilangkannya sama sekali. Dalam keadaan kafir,
nilai seorang manusia akan terbatas pada nilai bahan asal penciptaannya
sana, yaitu tanah. Sedangkan sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah
bahan asal itu tidak mempunyai nilai apa-apa. Karena bahan itu bersifat
fana dan pasti akan rusak. Maka seorang kafir hidupnya tak berbeda
dengan kehidupan hewan yang akan berlangsung sementara saja.
Marilah sama-sama kita renungkan hal itu dengan sebuah permisalan.
Nilai sebuah bahan asal itu tidak mesti sama dengan nilai barang jadi.
Ketidaksamaan itu akan terus bertambah sesuai dengan kualitas dan cara
pembuatannya. Oleh karena itu, kejadiannya pun bisa bermacam-macam.
Kadang kita jumpai sebuah barang buatan sama nilainya dengan bahan
asalnya. Kadang juga kita temui bahan asal jauh lebih mahal nilainya
dari pada barang buatannya.
Karena, boleh saja terjadi sebuah cindera mata yang sangat mahal itu
terbuat dari bahan besi. Cindera mata itu boleh jadi sebuah hasil seni
kuno yang dapat bernilai jutaan Lira, walaupun barang itu hanya terbuat
dari sebuah besi. Jika barang itu ditawarkan di sebuah pasar pengrajin
yang mahir dan berkemampuan seni tinggi, cindera mata itu dapat bernilai
jutaan Lira. Tapi apabila ditawarkan di pasar besi, maka barang itu
tidak bernilai tinggi. Bahkan mungkin tidak akan ada yang mau
membelinya, walaupun dijual dengan harga yang sangat murah.
Demikian juga manusia, dia adalah ciptaan yang sangat sempurna dari
Zat Pencipta Yang Maha Esa. Manusia adalah termasuk penampakan kekuasaan
Allah SWT yang tertinggi. Padanya, Allah SWT meletakkan banyak sekali
penampakan sifat-sifat dan asma’-asma’Nya. Allah SWT menciptakan manusia
untuk menjadi makhluk tempat berkumpulnya karakteristik semua
makhlukNya.
Bila telah terdapat cahaya keimanan pada diri seorang manusia, maka
cahaya itu akan menampakkan dan mengeluarkan semua potensi positif
manusia. Bahkan orang lain akan dapat pula merasakannya. Seorang yang
beriman akan dapat menangkap dan merasakan hal itu dengan cara
bertafakkur. Hingga keimanan itu pun akan bersemayam dalam dirinya.
Seakan seorang yang mempunyai cahaya itu berkata kepada orang lain,
“Wahai manusia, inilah aku, ciptaan Sang Pencipta Yang Maha Agung.
Lihatlah, betapa kasih sayangNya dilimpahkan kepadaku.”
Oleh karena itu, keimanan –yang juga mempunyai makna bernasab kepada
Allah SWT – akan dapat menampakkan seluruh kebaikan dan keistimewaan
manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai seorang manusia akan
sangat ditentukan oleh seberapa tampaknya kebaikan dan keistimewaan ini
pada dirinya. Maka dengan itu, seorang manusia yang nilai bahan asalnya
tak seberapa akan berubah menjadi makhluk yang bernilai sangat tinggi,
di atas seluruh makhlukNya yang lain. Saat itu, manusia akan dapat
berkuasa untuk menerima firman Allah SWT, dan mendapatkan kemuliaan yang
menjadikan dirinya sebagai tamuNya di surga.
Sebaliknya, jika manusia dimasuki oleh kekafiran –yang juga mempunyai
makna terputusnya nasab dengan Allah SWT- maka akan hilang juga semua
keistimewaan manusia yang berasal dari sifat-sifat dan asma’-asma’ Allah
SWT. Semua itu akan hilang dalam kegelapan. Ketika hilang, artinya hal
itu tidak akan dapat dilihat dan dibaca. Karena manusia itu sudah
melupakan Penciptanya. Dan ketika lupa, arah-arah maknawi yang dapat
menunjukkan kepada Sang Pencipta juga tidak dapat diketahui.
Bahkan keistimewaan dan kebaikan manusia itu akan berbalik
keadaannya. Semua tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang diletakkan pada
diri manusia akan benar-benar hilang. Yang tersisa dan terlihat oleh
mata hanyalah hal-hal yang sepele, yang sama-sama dimiliki oleh benda
dunia yang lain, dan kadang terjadi secara kebetulan. Itupun kadang akan
hilang sama sekali, sehingga benar-benar hilang keistimewaannya. Benda
yang sebelumnya bernilai sangat mahal itu kini tak bedanya dengan sebuah
botol kaca berwarna hitam kelam, yang hanya digunakan untuk
keperluan-keperluan yang sederhana dan biasa saja.
Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa tujuan hidup sebuah materi
hanyalah bagaimana dia dapat hidup walaupun sebentar saja, dengan
kehidupan yang sempit dan tidak bernilai tinggi. Materi adalah makhluk
yang paling rendah, lemah dan hina, dan pada akhirnya akan hilang dan
dimusnahkan. Dan demikianlah, bagaimana kekafiran dapat merubah kualitas
hidup manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang sangat tinggi
derajatnya, menjadi benda yang tidak ada bedanya dari benda dunia yang
lain. Layaknya perubahan dari permata yang mahal, menjadi batu arang
hitam yang hina. (msa/dakwatuna)