Kamis, 28 November 2013

Ketika Allah Menguji Kita dengan Sedih

Kamis, 28 November 2013 11:44:49 AM



Zulfi Akmal
Al-Azhar, Cairo

Kadang-kadang kita merasa sedih, tapi tidak tahu apa yang disedihkan dan tidak jalas apa penyebab sedih?

Kadang kita gundah gulana, tapi tidak tahu sebab kenapa kita gundah?

Kadang kita merasa kesal dan marah, tapi tidak tahu mau marah kepada siapa dan apa penyebab marah?

Kadang kita merasa kesepian, padahal banyak teman yang mengelilingi kita.

Untuk itu semua....

Boleh jadi penyebabnya hal berikut ini...

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Apabila telah banyak dosa seorang hamba, sementara tidak ada baginya amalan yang akan menjadi penebusnya, Allah akan mengujinya dengan rasa sedih". (HR. Imam Ahmad)

Bagi sebagian orang, sering salah menanggapi kondisi seperti ini. Untuk menghilangkan sedih, gundah, murung, kesal dan marah, ia malah mencari hiburan. Seperti pergi ke bioskop, diskotik, rekreasi dan naudzubillah, malah melakukan maksiat seperti mabuk dan semacamnya.

Padahal perasaan semacam itu munculnya justru disebabkan ujian dari Allah karena dosa yang sudah menumpuk. Untuk menghadapi hal demikian seharusnya yang kita lakukan adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar. Supaya dosanya cepat luntur dan bersih, dan Allah segera mengangkat ujiannya.

Bila yang kita lakukan malah semakin menjauh dari Allah dengan melakukan maksiat, tentu saja kegelisahan yang dialami akan semakin hebat. Kita pun semakin menjadi orang yang gagal di hadapan ujian Allah.

Ya Allah, tariklah kami untuk selalu mau menyadari kesalahan dan beri kami hidayah untuk langsung bertaubat.



sumber : PKS PIYUNGAN

Senin, 25 November 2013

Hidup Anda Selalu Kekurangan? Ini Dia Tips Mendadak Berkecukupan Ala Imam Syafi’i

arab car Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.
Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.
Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.
Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.
Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan (profesional), hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.

Sumber: Group Persaudaraan Muslim

Kamis, 21 November 2013

Bagaimana Iman Meningkatkan Derajat Manusia?

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/11/iman.jpgdakwatuna.com  – Dengan keimanan, derajat manusia dapat naik hingga derajat yang tertinggi. Maka dengan derajat yang tinggi itu, manusia menjadi mempunyai sebuah nilai yang dapat memasukkannya ke dalam surga.
Sebaliknya, dengan kekafiran, derajat manusia dapat turun hingga derajat yang serendah-rendahnya. Maka dengan derajat yang rendah itu, manusia tidak mempunyai nilai yang tidak berharga, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka.
Semua itu bisa terjadi karena iman telah menghubungkan antara manusia dan Penciptanya dengan hubungan dan ikatan yang sangat kuat, seperti kuatnya ikatan nasab, keturunan. Sesungguhnya keimanan adalah ikatan nasab, maka dengan keimanan seorang manusia mendapatkan nilai dan kedudukan yang sangat mulia. Kehendak dan ciptaan Allah SWT akan sangat jelas terlihat pada dirinya. Pada dirinya tanda-tanda indah yang berasal dari indahnya asma’-asma’ Allah SWT juga akan sangat terlihat.
Sedangkan kekafiran adalah sebaliknya. Kekafiran manusia telah memutuskan hubungan nasab manusia dengan Penciptanya. Kegelapan akibat kekafiran telah menutupi cahaya keindahan Allah SWT pada ciptaanNya, bahkan kadang dapat menghilangkannya sama sekali. Dalam keadaan kafir, nilai seorang manusia akan terbatas pada nilai bahan asal penciptaannya sana, yaitu tanah. Sedangkan sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah bahan asal itu tidak mempunyai nilai apa-apa. Karena bahan itu bersifat fana dan pasti akan rusak. Maka seorang kafir hidupnya tak berbeda dengan kehidupan hewan yang akan berlangsung sementara saja.
Marilah sama-sama kita renungkan hal itu dengan sebuah permisalan. Nilai sebuah bahan asal itu tidak mesti sama dengan nilai barang jadi. Ketidaksamaan itu akan terus bertambah sesuai dengan kualitas dan cara pembuatannya. Oleh karena itu, kejadiannya pun bisa bermacam-macam. Kadang kita jumpai sebuah barang buatan  sama nilainya dengan bahan asalnya. Kadang juga kita temui bahan asal jauh lebih mahal nilainya dari pada barang buatannya.
Karena, boleh saja terjadi sebuah cindera mata yang sangat mahal itu terbuat dari bahan besi. Cindera mata itu boleh jadi sebuah hasil seni kuno yang dapat bernilai jutaan Lira, walaupun barang itu hanya terbuat dari sebuah besi. Jika barang itu ditawarkan di sebuah pasar pengrajin yang mahir dan berkemampuan seni tinggi, cindera mata itu dapat bernilai jutaan Lira. Tapi apabila ditawarkan di pasar besi, maka barang itu tidak bernilai tinggi. Bahkan mungkin tidak akan ada yang mau membelinya, walaupun dijual dengan harga yang sangat murah.
Demikian juga manusia, dia adalah ciptaan yang sangat sempurna dari Zat Pencipta Yang Maha Esa. Manusia adalah termasuk penampakan kekuasaan Allah SWT yang tertinggi. Padanya, Allah SWT meletakkan banyak sekali penampakan sifat-sifat dan asma’-asma’Nya. Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi makhluk tempat berkumpulnya karakteristik semua makhlukNya.
Bila telah terdapat cahaya keimanan pada diri seorang manusia, maka cahaya itu akan menampakkan dan mengeluarkan semua potensi positif manusia. Bahkan orang lain akan dapat pula merasakannya. Seorang yang beriman akan dapat menangkap dan merasakan hal itu dengan cara bertafakkur. Hingga keimanan itu pun akan bersemayam dalam dirinya. Seakan seorang yang mempunyai cahaya itu berkata kepada orang lain, “Wahai manusia, inilah aku, ciptaan Sang Pencipta Yang Maha Agung. Lihatlah, betapa kasih sayangNya dilimpahkan kepadaku.”
Oleh karena itu, keimanan –yang juga mempunyai makna bernasab kepada Allah SWT – akan dapat menampakkan seluruh kebaikan dan keistimewaan manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai seorang manusia akan sangat ditentukan oleh seberapa tampaknya kebaikan dan keistimewaan ini pada dirinya. Maka dengan itu, seorang manusia yang nilai bahan asalnya tak seberapa akan berubah menjadi makhluk yang bernilai sangat tinggi, di atas seluruh makhlukNya yang lain. Saat itu, manusia akan dapat berkuasa untuk menerima firman Allah SWT, dan mendapatkan kemuliaan yang menjadikan dirinya sebagai tamuNya di surga.
Sebaliknya, jika manusia dimasuki oleh kekafiran –yang juga mempunyai makna terputusnya nasab dengan Allah SWT- maka akan hilang juga semua keistimewaan manusia yang berasal dari sifat-sifat dan asma’-asma’ Allah SWT. Semua itu akan hilang dalam kegelapan. Ketika hilang, artinya hal itu tidak akan dapat dilihat dan dibaca. Karena manusia itu sudah melupakan Penciptanya. Dan ketika lupa, arah-arah maknawi yang dapat menunjukkan kepada Sang Pencipta juga tidak dapat diketahui.
Bahkan keistimewaan dan kebaikan manusia itu akan berbalik keadaannya. Semua tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang diletakkan pada diri manusia akan benar-benar hilang. Yang tersisa dan terlihat oleh mata hanyalah hal-hal yang sepele, yang sama-sama dimiliki oleh benda dunia yang lain, dan kadang terjadi secara kebetulan. Itupun kadang akan hilang sama sekali, sehingga benar-benar hilang keistimewaannya. Benda yang sebelumnya bernilai sangat mahal itu kini tak bedanya dengan sebuah botol kaca berwarna hitam kelam, yang hanya digunakan untuk keperluan-keperluan yang sederhana dan biasa saja.
Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa tujuan hidup sebuah materi hanyalah bagaimana dia dapat hidup walaupun sebentar saja, dengan kehidupan yang sempit dan tidak bernilai tinggi. Materi adalah makhluk yang paling rendah, lemah dan hina, dan pada akhirnya akan hilang dan dimusnahkan. Dan demikianlah, bagaimana kekafiran dapat merubah kualitas hidup manusia yang sebenarnya adalah makhluk yang sangat tinggi derajatnya, menjadi benda yang tidak ada bedanya dari benda dunia yang lain. Layaknya perubahan dari permata yang mahal, menjadi batu arang hitam yang hina. (msa/dakwatuna)