Rabu, 26 Juni 2013

Mulia Dalam Kejujuran


Kejujuran (ilustrasi).
Kejujuran (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Haedar Nashir

“Aku bukan Malaikat,” kata si Fulan penuh nada yakin. Memang, siapa bilang engkau mahkluk Allah yang sangat patuh dan bersih dari dosa? Kita manusia biasa. Sejauh tak ada percikan niat ingin menjadi pendosa dan bersahabat dengan syaitan, mengapa mesti galau?

Manusia, siapa pun dia bisa salah dan khilaf. Manusia menjadi manusiawi karena dalam dirinya ada ruang untuk keliru.

Adam sang khalifah fil-ardh dan istrinya Hawa mengalami tahbith, dikeluarkan dari surga karena memakan buah khuldi. Keduanya menjalani hidup di dunia sebagai manusia biasa. Adam alaihissalam (AS) kemudian diberi tugas mulia sebagai nabi penyebar risalah pertama di muka bumi.

Masalahnya, tidak sedikit manusia berpakaian angkuh ketika salah. Alih-alih jujur akan kekhilafan, lalu memperbaiki diri ke jalan benar dan berlari kencang menuju ampunan Tuhan malah sibuk mencari kambing hitam. Diri seolah tetap bersih dan tak merasa berada di persimpangan jalan buntu.

Isyarat tubuh pun masih tampak pongah dalam keperkasaan semu. Jauh dari sikap tawadhu' (rendah hati). Ketika salah dan berbelok arah dari idealisme awal, masih pula merasa lurus.

Tak ada rona sesal untuk bermuhasabah diri. Keangkuhan itulah yang menjadikan anak cucu Adam tersandera dalam sangkar besi kesalahan, lalu menjadi cibiran nyinyir khalayak publik.

Menjauhi kicuh
Muslim yang autentik berani jujur meski ketika salah. Ibda bi-nafsika, orang jujur akan selalu berkonsultasi kepada hatinya. Pihak lain akan mudah dikelabui dengan 1.001 cara. Tetapi manakala diri salah maka nurani tak pernah dusta.

Kejujuran itu mahal. Kejujuran merupakan mutiara paling berharga yang membuat siapa pun dihargai dan dipercaya. Tuhan mencintai orang-orang yang berhati jujur, berkata dan berbuat jujur.

Muhammad di usia muda sebelum diangkat menjadi Nabi memperoleh tempat mulia di hati bangsa Arab karena kejujurannya. Dia bahkan digelari al-Amin, sang terpercaya. Bangsa kafir dan jahiliyah sekalipun masih menjujung tinggi nilai kejujuran.

Kejujuran itu universal. Di belahan dunia manapun sejauh hati masih bicara, pasti mencintai kejujuran. Pesepak bola ternama dari negeri Samba, Neymar, juga mencintai kejujuran.

“Saya orang Brasil dan saya mencintai negara saya. Saya ingin Brasil yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih jujur,” tulis Neymar di akun Facebook-nya ketika mereaksi maraknya demonstrasi di negerinya beberapa saat sebelum kick off pertandingan Piala Konfederasi 2013 melawan Meksiko.

Bagi orang Islam kejujuran harus menjadi bagian utuh dari kemusliman. Kisah Imam Al-Bukhari tatkala melacak kebenaran sebuah hadis sungguh penting dijadikan mutiara kehidupan.

Suatu kali periwayat hadis ternama itu pergi menelusuri kebenaran sebuah hadis dari seseorang. Ia melihat orang yang dicari itu sedang mengejar kudanya yang terlepas. Untuk menangkap kudanya, orang itu menunjukkan bungkusan seolah di dalamnya ada gandum. Kuda terkecoh dan akhirnya ditangkap kembali.

Al-Bukhari mendekat dan bertanya kepada si pemilik kuda. “Apakah engkau sertakan gandum dalam bungkusan itu?” Orang itu menjawab, “Tidak, aku hanya mengelabui kudaku agar mudah kutangkap.”

Imam Bukhari dengan tegas berkata, “Kalau begitu, aku tidak akan mencari hadis dari orang yang bohong terhadap hewan.” Dusta dan bersiasat kepada hewan saja tercela, apalagi terhadap sesama manusia.

Kisah Al-Bukhari menurut Jabir al-Jazairi merupakan contoh agung tentang hakikat kejujuran atau kebenaran. Kejujuran merupakan nilai, sikap, dan tindakan paling utama, lebih dari segalanya. Hidup jujur itu mulia, sedangkan dusta itu hina.

Lawan jujur ialah kicuh, yakni dusta dan suka mengelabui. Dalam hadis disebut nifaq. Yakni, jika bicara atau memberi pernyataan berbohong, manakala berjanji tidak ditepati, dan bila diberi amanat berhianat.

Barang halal dan baik dicampuradukkan dengan yang haram dan subhat. Lain di kata, lain pula tindakan. Jargon dan tindakan lahir tampak indah demi rakyat, tetapi motif dan tujuan penuh siasat bulus. Kicuh perilaku yang antagonis seperti itulah musuh kejujuran dan kebenaran sekaligus perangai yang paling dibenci Tuhan. (QS ash-Shaff [61]: 4).

Kehormatan diri
Perilaku kicuh sering membuat pelaku bebal diri. Bertipu muslihat dianggap lumrah dan bukan dosa. Boleh jadi perbuatan muslihat bagi sementara orang dipandang sebagai cara hidup demi meraih tujuan.

Dusta menjadi perilaku berjamaah yang didukung para pengikut setia. Ukuran moral dinisbikan demi siasat, yang penting nilai guna dan kemenangan. Hati nan jernih (qalbu salim) akhirnya menjadi mati rasa. Agama pun tak sungkan dijadikan alat mengicuh dalam aroma sakral.

Insan beriman pun bisa roboh ketangguhan akidahnya. Keimanan hanya gemerlap dari luar, tetapi kering di dalam karena tingginya hasrat menguasai dunia melampaui takaran.

Tatkala perjuangan hidup masih merayap senyap, kejujuran dan nilai-nilai luhur masih dapat dirawat dengan baik. Setelah roda kehidupan berputar ke atas, api kejujuran dan sikap hidup utama pun luruh dan terkikis habis karena tertipu dengan pesona dunia. (QS Ali Imran [3]: 14).

Kejujuran digadaikan. Idealisme ditukar murah dengan kursi, materi, dan kesenangan indera yang diraih dengan jalan pintas. Perangai berubah drastis dari sosok-sosok yang tulus hati dan tawadhu' yang menjadi para pencari pamrih dalam pakaian diri serba angkuh, pemarah, ambisius, dan terjangkiti virus apologia.

Begitulah ketika pesona dan kejayaan duniawi mengerangkeng hidup bani Adam. Dalam sangkar besi kehidupan dunia yang sarat gemerlap tidak sedikit manusia beriman akhirnya jatuh dalam kubangan kesalahan diri dan kolektif. Maksud meraih sukses dunia melampaui pihak lain, segala cara syubhat dan haram pun dilakukan.

Nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kepatutan diterabas tanpa rasa sungkan. Martabat atau kehormatan diri pun dibanting harga hingga ke titik terendah, yang penting menang dalam meraih tujuan.

Kaum beriman pun kehilangan kehormatan diri demi kejayaan hidup berlebih. Mata batinnya lumpuh dan tidak lagi sensitif akan nilai-nilai kebajikan yang utama. Nasihat sekaligus kritik orang tak lagi mempan, bahkan bebal ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu.

Kian larut dalam permainan duniawi, semakin jauh dirinya dari segala sesuatu yang bernilai hakiki, yang ada hasrat dan keasyikan mengejar kedigdayaan. Akhirnya, berlakulah titah Tuhan, tsuma radadnahu asfala safilin, “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS at-Tin [95]: 5).

Iman dan ilmu tinggi tidak lagi menjadi energi pencerahan hidup. Keberimanan pun berhenti sekadar menjadi aksesori keagamaan yang kelihatan bening dari luar, tetapi jorok di dalam. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dia-lah yang paling mengetahui tentang perangai orang bertaqwa.”(QS an-Najm [53]: 32).

Alquran Bagi Calon Legislatif


Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teuku Zulkhairi*
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan, “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lama, kedua perkara tersebut adalah Kitabullah (Alquran) dan sunahku.” (HR Hakim dan Daruquthni).

Sebagai umat Islam, bagi kita Alquran adalah kitab suci yang harus kita jadikan sebagai pegangan hidup. Alquran adalah masdarul hayah. Alquran memberi petunjuk atas apa pun persoalan yang dihadapi umat Islam selama hidupnya.

Tentu saja, termasuk dalam ranah negara di era demokrasi dengan trias politica-nya, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam Islam, kenestapaan yang mendera bangsa kita saat ini terjadi karena Alquran sudah demikian jauh ditinggalkan oleh pelaksana ketiga lembaga negara itu.

Alquran menjelaskan, beragam petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Tak hanya umat Islam tapi seluruh manusia. Misalnya, Alquran sebagai yang menerangkan dan menjelaskan (QS [16]:89), Alquran sebagai kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS [2]: 91), Alquran sebagai Furqan (pembeda antara hak dan yang batil, baik dan buruk), Alquran sebagai obat penyakit (jiwa) (QS [10]: 57), pemberi kabar gembira, sebagai hidayah atau petunjuk (QS [2]: 2), sebagai peringatan, sebagai cahaya petunjuk (QS [42]: 52), sebagai pedoman hidup (QS [45]: 20), dan sebagai pelajaran.

Fungsi legislatif
Maka, bagi seorang calon anggota legislatif (caleg) yang jika kelak terpilih sebagai anggota legislatif, khususnya para legislator Muslim, ada kewajiban besar untuk menjadikan Alquran sebagai sumber pijakan dalam menjalankan amanah rakyat, sekaligus petunjuk jalan kehidupan.

Patut diingat, tugas mengimplementasikan kandungan Alquran bukan hanya diemban oleh anggota legislatif yang berasal dari partai politik berbasis massa Islam, tapi juga bagi setiap kader parpol yang beragama Islam. Sebagai Muslim, sudah sewajarnya menjalankan ajaran Alquran dan sunah Rasulullah dalam segala aspek kehidupan.

Terkait fungsi legislatif, masyarakat manapun bisa mengkaji apa fungsi sebuah lembaga legislatif karena memang untuk memahaminya tidak terlalu sulit. Sebagaimana dijelaskan Ali Moertopo (1974), ada tiga tugas pokok sebuah lembaga legislatif.

Pertama, fungsi di bidang legislasi, bersama-sama dengan pemerintah menentukan pokok-pokok kebijakan pemerintahan melalui perundang-undangan. Kedua, fungsi bidang anggaran (budgetting), menentukan anggaran belanja dan penerimaan negara bersama dengan pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan yang disetujui bersama. Ketiga, fungsi bidang pengawasan, melalui komisi-komisi pengawasan terhadap pemerintah dengan mempunyai hak bertanya, angket, dan lain-lain.

Fungsi Alquran bagi Legislatif
Fungsi Alquran bagi anggota legislatif sebenarnya sama juga dengan fungsi Alquran bagi kategori umat Islam lainnya. Alquran adalah petunjuk hidup, solusi atas berbagai persoalan umat manusia.

Jika dikaitkan dengan fungsi dan wewenang lembaga legislatif yang terangkum dalam tiga fungsi utama seperti disebutkan di atas, maka seharusnya Alquran menjadi petunjuk dalam setiap kebijakan legislasi, prosesi penentuan anggaran dan petunjuk utama dalam melakukan pengawasan penggunaan anggaran dan kinerja pemerintah dengan segenap kabinetnya.

Dengan menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam proses legislasi, budgeting dan pengawasan, maka kita yakin negeri ini akan semakin berkah dan diridhai Allah. Setiap produk Undang-undang pasti di sana akan dipenuhi pesan-pesan langit yang menyeru kepada rahmatan lil alamin, bukan hanya menjadi berkah bagi jaringan dan kelompok tertentu.

Setiap proses penentuan budgeting, kita yakin anggaran akan sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat serta sepenuhnya benar dalam perspektif Islam, benar secara syari'i dan secara politik serta tidak ada KKN lagi di sana.

Begitu juga, pengawasan yang dilakukan oleh lembaga legislatif akan memiliki patron yang jelas yang akan menyelamatkan kita semua di dunia dan di akhirat. Dan yang lebih penting, Alquran menjelaskan, apa pun pekerjaan manusia akan selalu berada dalam pengawasan sang pencipta, Allah SWT.

Melihat realitas kehancuran hari ini dan harapan kita di hari esok, kita berharap negeri ini mampu memelopori terobosan-terobosan baru dalam seleksi kepemimpinan. Pemilu ke depan, kita berharap para bacaleg Muslim mampu membaca Alquran, memahami, menerjemahkan, dan mengimplementasikan isinya dalam kehidupan pribadi dan juga dalam bentuk produk legislasi.

Kita berharap, suatu hari nanti lembaga legislatif kita diisi oleh para penghafal Alquran yang selalu ber-mulazamah dengan Alquran. Selain itu, hatinya juga selalu terpaut dengan masjid sehingga dengan itu akan memudahkan tugasnya sebagai seorang anggota legislatif.

Dengan model legislatif seperti ini, tentu kita yakin dengan cita-cita. Kita yakin, 10 atau 20 tahun mendatang, lembaga legislatif kita pasti akan berpihak sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan yang lebih penting, posisi Alquran bisa dikembali pada posisi idealnya.

Sebelum hal itu terwujud, kita berharap legislator Muslim saat ini dan yang akan terpilih di Pileg 2014 agar terus mengkaji pesan-pesan Alquran dan hadis untuk menjalankan semua tugasnya di lembaga legislatif. Saya yakin tidak sulit jika ada kesungguhan.